Mamaku, Sang Perawat Sejati

22 Dec

Mama on our wedding day

Mamaku, lahir di Jakarta 52 tahun yang lalu. 29 tahun yg lalu mama melahirkan aku, 5 tahun kemudian menyusul adik perempuanku. Papa pernah bercerita kalau mama menyusui aku sampai usia 2 tahunan, sehingga mereka hemat alias tidak pernah beli susu kaleng πŸ˜€ Waktu aku sekolah TK-SD, mama yang mengantar aku ke sekolah. Kebetulan ketika aku SD, adikku bersekolah di TK yg masih satu kompleks dengan SDku.

Walau setiap hari aku sekolah diantar jemput oleh mama, aku tumbuh menjadi pribadi yang lebih dekat dengan papa. Hubungan aku dengan mama bukanlah hubungan anak-ibu seperti yg teman2ku alami. Mereka mungkin sering curhat sama ibu mereka tentang hal apapun, tapi tidak begitu dengan aku dan mamaku. Aku lebih sering ngobrol dan curhat dengan papa dibanding dengan mama. Tapi ketika aku sakit, entah kenapa kalau belum dipegang sama mama, rasanya ini badan ngga sembuh2. Kadang kecapean biasa yg hanya memerlukan gosokan minyak kayu putih, tapi kalau bukan mama yg menggosok, ngga akan sembuh. 2 x aku diopname di rumah sakit karena gejala DBD, tiap kali susternya mau ambil darah, mama harus ada di samping aku supaya aku ngga takut. Pokoknya setiap kali ke dokter dan harus berhubungan dengan jarum suntik, mama selalu ada di samping aku.

Ketika oma (ibu dari papa) sakit dan harus diopname berkali2 di rumah sakit, yang setia menemani & merawat di rumah sakit adalah mama, menantunya oma. Padahal masih ada tante Enny (kakak perempuan dari papa). Tanpa lelah mama mengantarkan oma setiap kali kontrol ke dokter ataupun harus menginap di rumah sakit karena oma diopname. Sungguh aku mengagumi kesetiaan & ketekunan mama merawat ibu mertuanya. Oleh karena itu, aku bisa memahami kesedihan mama yang mendalam ketika oma pergi untuk selama2nya dan malam itu bukan mama yg sedang menjaga oma, tapi papa.

Waktu aku pindah ke Pontianak, papa dan mama antar aku & Bryan sampai di bandara. Ngga disangka, pas pamitan eh mama nangis juga. Ah jadi makin sedih deh ninggalin Jakarta.

Saat ini papa sedang sakit jantung dan tante Enny divonis kanker serviks. Kembali mama menjadi perawat di keluarga kami. Setiap hari mama ke RSCM untuk menemani tante Enny berobat (sinar & kemoterapi) serta mengurus surat2 SKTMnya. Pada saat yang bersamaan, papa masuk rumah sakit, bahkan sempat di ICCU. Jadilah mama bolak balik RSCM-Carolus. Malamnya mama menginap di Carolus untuk jaga papa, paginya pulang ke rumah trus ke RSCM untuk antar tante Enny berobat. Sementara aku yg jaga papa dari pagi hingga malam sampai mama datang lagi. Syukurlah sekarang papa sudah di rumah sehingga mama tidak perlu menginap di Carolus lagi.

Dulu kalau pulang kerja, sampai di rumah & lapar berat, rasanya itu nikmat banget ketika nemu masakanΒ  mama di meja makan. Entah itu sayur asem, soto ayam, apapun pokoknya kalau mama yang masak, langsung disikat. Dodolnya, waktu belum nikah, aku bener2 males masuk dapur buat belajar masak. Ya sesekali bantuin ngaduk2 tanpa tahu bahan2nya apa aja πŸ˜€ Mama pernah bilang, ‘setelah menikah, yang namanya memasak dan urus anak itu alamiah. ngga perlu belajar pasti bisa sendiri’. Yes ma, betul banget. Aku membuktikan sendiri, setelah nikah aku coba2 untuk masak sendiri walaupun awal2 masih suka sms/telp mama untuk nanya resep hehehe….

Mama bukanlah seorang yang pendidikannya tinggi sampai Sarjana. Namun keahlian beliau tidaklah kalah dengan perawat yang kuliah di sekolah tinggi keperawatan, karena mama merawat dengan cinta.

Di hari Ibu ini, aku mau bilang kalau aku sangat menyayangi & mencintai mama. Terima kasih sudah merawat papa, aku dan Jessi dengan cinta & kasih yang tulus. Terima kasih sudah menjadikan aku pribadi seperti yang sekarang ini. Walaupun kadang aku suka sebel sama mama, tapi akhirannya pasti aku nyesel deh ma. Aku ingin jadi ibu rumah tangga seperti mama, yang sentuhan dan masakannya selalu dirindukan oleh suami & anak2nya. I miss u so much, ma! Kalau aku di Jakarta, pasti aku peluk & cium mama. I β™₯ u mama!

Oiya, selamat hari Ibu juga buat mamak mertuaku. Terima kasih sudah melahirkan & membesarkan Bryan dengan penuh cinta. Terima kasih sudah menjadi ibu mertua yang baik, ngga galak dan ngga pernah mencampuri urusan rumah tangga kami πŸ™‚

Advertisements

6 Responses to “Mamaku, Sang Perawat Sejati”

  1. -laurent- a.k.a -sari- December 22, 2010 at 3:28 pm #

    Rene! hampir nangis gw bacanya… so sweet..!

    • bryanirene December 22, 2010 at 3:31 pm #

      ini aja gw nulisnya sambil berkaca2 boooow hiks hiks hiks…..

  2. wilen December 22, 2010 at 9:04 pm #

    Bagus loh Ren artikelnya πŸ™‚
    tks for sharing

    • bryanirene December 24, 2010 at 12:15 pm #

      hi len, apa kabar?
      you’re welcome dear…

  3. Myrantie December 28, 2010 at 9:43 am #

    Hi Irene,

    Jadi berkaca2 baca tulisan yang ini..
    jadi inget nyokap yg slalu ada buat kluarganya (semua..termasuk keponakan n ipar2nya) klo lagi susah n senang.

    Percaya ga, klo disetiap keluarga besar itu pasti ada 1 orang yang amat sangat diandalkan..mungkin itu mama nya Irene pun nyokap gw :p

    bisa ga ya kita kaya mama2 kita?

    • bryanirene December 28, 2010 at 11:00 am #

      hi ran,
      sepertinya every mother is a hero to her own family ya.
      setiap ibu pasti punya caranya sendiri untuk ngatasin masalah and yes mother is the strongest person in the family bahkan dalam perkara yg paling besar.

      kadang hal kecil yg dilakuin nyokap yg menurut kita sepele aja, kadang2 malah itu yg paling kita kangenin *hiks*

      mudah2an aja kita bisa kayak mereka, cause my mom is my role model πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: